Myopia marketing adalah istilah untuk kondisi ketika brand terlalu fokus pada produk mereka dan mengabaikan kebutuhan konsumen.
Meski tujuan utamanya adalah mengejar penjualan dan tentu tidak bisa disalahkan, strategi ini pada akhirnya hanya akan merugikan perusahaan dan membuat brand kehilangan arah, membuatnya tertinggal di antara kompetitornya.
Sehingga, sangat penting untuk para brand owner memahami bahwa relevansi bukan hanya soal mengikuti tren, tapi juga mengantisipasi kebutuhan konsumen di masa depan.
Mengapa brand melakukan myopia marketing?
1. Terlalu fokus pada brand, bukan pada konsumen
Salah satu penyebab utama marketing myopia adalah ketergantungan yang berlebihan pada brand dan produk itu sendiri.
Banyak perusahaan terjebak dalam anggapan bahwa produk mereka sudah cukup hebat dan tidak perlu banyak perubahan.
Namun, dalam dunia bisnis yang dinamis, perusahaan harus lebih peka terhadap apa yang sebenarnya diinginkan oleh konsumen, bukan sekadar apa yang ingin mereka tawarkan.
Ketika brand terlalu fokus pada identitasnya, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan atau harapan konsumen.
Hal ini bisa berakibat pada ketidakrelevanan produk di pasar yang bergerak cepat, yang akhirnya berdampak buruk pada daya tarik dan penjualan.
2. Goals yang bersifat jangka pendek
Banyak perusahaan, terutama yang baru berkembang, terjebak dalam pola pikir orientasi jangka pendek.
Mereka lebih fokus pada pencapaian target penjualan tahunan atau kuartalan daripada membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Ketika perusahaan hanya mengejar keuntungan cepat, ada kemungkinan kualitas produk, pengalaman konsumen dan pengembangan brand jadi terabaikan.
Akibatnya, meskipun dapat mencapai lonjakan penjualan sementara, loyalitas konsumen dan brand image yang kuat bisa terganggu, yang pada akhirnya merugikan pertumbuhan jangka panjang.
3. Terjebak di Comfort Zone
Di beberapa kasus, ketika perusahaan merasa puas dengan posisi pasar yang telah tercapai, mereka cenderung menjadi lebih pasif dan enggan untuk melakukan inovasi.
Kepuasan sementara ini bisa membatasi pandangan perusahaan terhadap peluang baru, perubahan tren, atau teknologi yang sedang berkembang.
Sehingga, mereka cenderung tidak responsif terhadap kebutuhan pasar yang berubah. Hal ini menyebabkan stagnasi, di mana bisnis tidak berkembang, bahkan bisa kalah saing dengan brand yang lebih adaptif dan inovatif.
4. Kurangnya Riset Pasar
Tidak ada yang lebih destruktif daripada membuat keputusan marketing berdasarkan asumsi semata. Tanpa riset pasar yang mendalam, perusahaan tidak dapat memahami sepenuhnya dinamika pasar dan perubahan perilaku konsumen.
Banyak perusahaan yang merasa sudah mengetahui apa yang diinginkan konsumen, padahal kenyataannya bisa sangat berbeda. Ketiadaan data yang valid dan analisis yang tepat dapat mengarah pada keputusan yang salah, sehingga berdampak pada ketidaktepatan dalam produk, harga, hingga strategi pemasaran.
Riset pasar bukan hanya soal mengetahui siapa audiens Anda, tapi juga memahami bagaimana mereka berpikir, merasa dan bertindak.
5. Apatis terhadap Perubahan
Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan adalah salah satu bentuk marketing myopia yang paling berbahaya.
Perusahaan yang enggan untuk keep up dengan perubahan tren, teknologi, atau perubahan perilaku konsumen berisiko menjadi usang dan kehilangan relevansi di pasar.
Hal ini menciptakan kesenjangan antara apa yang diinginkan konsumen dan apa yang perusahaan tawarkan, sehingga memperburuk posisi mereka di pasar.
6. Target market yang terlalu sempit
Faktor berikutnya yang cukup fatal adalah perusahaan mendefinisikan target pasar mereka terlalu sempit.
Ada beberapa brand yang hanya berfokus pada segmen konsumen tertentu, tanpa mempertimbangkan potensi pasar yang lebih luas.
Meskipun ada pengecualian untuk target pasar yang sempit melalui pendekatan niche market, tetap penting bagi perusahaan
untuk tetap peka terhadap perubahan tren dan preferensi konsumen yang lebih luas.
Contoh nyata dari marketing myopia dapat dilihat pada perusahaan seperti Kodak dan Blockbuster, yang terbilang “telat” beradaptasi dengan perubahan teknologi dan perilaku konsumen, sehingga kehilangan posisi mereka di pasar.
Strategi menghindari Myopia marketing
Agar perusahaan tidak terjebak dalam Myopia marketing, hal pertama tentu adalah menghindari faktor-faktor yang sudah disebutkan di atas. Untuk lebih lengkapnya, perusahaan penting untuk:
1. Mempelajari kebutuhan dan keinginan konsumen
Memahami kebutuhan dan keinginan konsumen bukanlah pekerjaan sekali jadi, melainkan sebuah proses yang harus dilakukan secara berkelanjutan.
Riset pasar yang rutin dan mendalam memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan insight yang lebih tajam tentang apa yang benar-benar dicari oleh konsumen.
Berdasarkan data tersebut, perusahaan dapat mengembangkan produk atau layanan yang betul-betul relevan dan sesuai dengan harapan konsumen.
Dengan demikian, perusahaan tidak hanya akan mempertahankan loyalitas konsumen, tetapi juga membuka peluang untuk menarik konsumen baru.
2. Menentukan goals jangka panjang
Terlalu fokus pada pencapaian jangka pendek sering membuat perusahaan terjebak dalam keserakahan untuk meraih keuntungan cepat, yang berisiko merusak hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Oleh karena itu, perusahaan perlu menetapkan visi jangka panjang yang jelas. Ini bukan hanya tentang target penjualan tahun ini, tetapi bagaimana perusahaan berencana untuk tumbuh dan berkembang dalam lima atau sepuluh tahun mendatang.
Berpikir jangka panjang termasuk perencanaan untuk inovasi produk, pengembangan pasar, dan penciptaan nilai yang berkelanjutan.
Dengan memiliki tujuan yang lebih besar dan visi yang jelas, perusahaan dapat tetap menjaga arah, meskipun menghadapi tekanan untuk memenuhi tujuan jangka pendek.
3. Inovasi berkelanjutan
Untuk tetap bisa mengikuti kebutuhan pasar, suka tidak suka perusahaan harus selalu putar otak dalam berinovasi.
Tidak hanya dalam hal produk, tetapi juga dalam layanan, proses bisnis hingga teknologi yang digunakan.
Perusahaan yang stagnan dalam hal inovasi berisiko tertinggal dari pesaing yang lebih adaptif terhadap tren pasar yang baru.
Dengan terus berinovasi, perusahaan memastikan bahwa mereka tidak hanya mengikuti perkembangan pasar, tetapi juga menciptakan perubahan dan nilai yang bisa memenuhi harapan konsumen yang semakin berkembang.
4. Adaptif terhadap perubahan
Dunia bisnis selalu berubah, dan perubahan tersebut bisa datang dengan sangat cepat, apalagi di era digital dewasa kini.
Perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan ini akan sangat mudah tersaingi. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk mengembangkan budaya yang adaptif, yang dapat merespons perubahan.
Untuk itu, pemantauan tren pasar secara teratur menjadi kunci. Teknologi baru, seperti kecerdasan buatan (AI) atau analitik data besar (big data), juga harus digunakan untuk memberikan insight lebih dalam tentang tren pasar dan perilaku konsumen.
Dengan mengembangkan budaya perusahaan yang fleksibel, perusahaan dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dan tetap relevan di pasar.
5. Riset pasar yang mendalam
Riset pasar bukan hanya aktivitas awal sebelum peluncuran produk, tetapi menjadi bagian dari strategi pemasaran yang berkelanjutan.
Dengan riset pasar yang mendalam, perusahaan dapat mengidentifikasi tren baru, memahami preferensi konsumen, dan mengetahui apakah produk mereka masih memenuhi kebutuhan pasar.
Selain itu, riset pasar juga penting untuk mengumpulkan feedback dari konsumen setelah peluncuran produk. Feedback ini memberikan informasi tentang kekuatan dan kelemahan produk, serta area yang perlu ditingkatkan.
Analisis kompetitor juga tidak terpisahkan dari riset pasar yang mendalam. Memahami bagaimana pesaing bereaksi terhadap perubahan pasar dapat membantu perusahaan untuk mengantisipasi dan menanggapi perubahan dengan lebih strategis.
6. Bangun Brand Message yang Kuat
Alih-alih terlalu fokus pada produk, perusahaan perlu membangun brand message yang kuat dan menyampaikannya dengan cara yang unik namun berkesan. Pengemasan brand message yang tepat akan membangun citra brand yang menempel di benak konsumen. Sehingga, konsumen akan lebih mungkin untuk selalu mengingat brand Anda, dan memilih produk dari brand Anda untuk seterusnya.
7. Pendekatan Holistik dalam Bisnis
Agar dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang, perusahaan perlu melihat bisnis secara holistik. Ini berarti mengevaluasi seluruh aspek operasional perusahaan, mulai dari pengembangan produk, pemasaran, layanan konsumen, hingga kolaborasi antar departemen.
Pendekatan holistik juga melibatkan pemahaman yang lebih spesifik tentang dinamika industri secara keseluruhan.
Melalui evaluasi menyeluruh ini, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi risiko marketing myopia dan mengambil tindakan preventif untuk menghindarinya.
Selain itu, dengan kolaborasi yang lebih erat antar departemen, perusahaan dapat menciptakan produk atau layanan yang lebih terintegrasi dan sesuai dengan kebutuhan pasar yang lebih luas.
Simpulan
Marketing myopia merupakan tantangan serius bagi perusahaan yang terjebak dalam pemikiran sempit, terlalu fokus pada produk dan merek mereka sendiri tanpa memahami kebutuhan dan keinginan konsumen.
Faktor-faktor penyebabnya meliputi orientasi jangka pendek, ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar, kurangnya riset yang mendalam, serta definisi target pasar yang terlalu sempit.
Untuk menghindari jebakan ini, perusahaan perlu mengadopsi strategi yang lebih berfokus pada konsumen, seperti melakukan riset pasar secara berkelanjutan, berinovasi secara konsisten, dan menetapkan visi jangka panjang.
Selain itu, penting bagi perusahaan untuk bersikap adaptif terhadap perubahan dan melihat bisnis secara holistik.
Dengan menerapkan pendekatan-pendekatan ini, perusahaan dapat memastikan relevansi dan keberlanjutan di pasar yang dinamis, sekaligus membangun hubungan yang kuat dengan konsumen mereka.
Referensi
Ginee. (2023). Marketing Myopia Adalah Pendekatan Pemasaran Yang Salah? Retrieved from https://ginee.com/id/insights/marketing-myopia-adalah/
AndiLearn. (2024). Marketing Myopia – Penghambat Tumbuhnya Bisnis! Retrieved from https://www.andilearn.com/konsep-marketing/marketing-myopia/
StartupStudio.id. (2023). Ingin Bisnis Terus Tumbuh? Hindari Marketing Myopia! Retrieved from https://startupstudio.id/hindari-marketing-myopia-agar-bisnis-terus-tumbuh/
Neliti. (2015). Menghindari Green Marketing Myopia: Upaya Peningkatan Performa Produk Ramah Lingkungan. Retrieved from https://www.neliti.com/es/publications/175702/menghindari-green-marketing-myopia-upaya-peningkatan-performa-produk-ramah-lingk
